Inspiratif, Aipda Firman Rajut Spiritualitas dan Bangkitkan UMKM dari Halaman Parkir Rumah

Aipda Friman bersama istri

KEDIRI – Menjadi anggota Polri bagi Aipda Firman Wahyu Utama bukan sekadar menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Di luar seragam yang dikenakannya, anggota Sie Propam Polres Kediri Kota itu memilih mengambil peran lebih luas, menjadi penggerak kegiatan keagamaan sekaligus jembatan bagi masyarakat yang ingin bangkit secara ekonomi.

Berawal dari kebiasaan menerima curahan hati warga di rumahnya yang berada di kawasan Jalan Tambora, belakang SMA Negeri 2 Kediri, Firman kini membina dua wadah pengajian yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai spiritual, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, penguatan mental, hingga pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut Firman, pengajian saat ini mudah ditemukan di berbagai tempat. Namun, tidak semuanya mampu menjangkau masyarakat yang belum tersentuh atau sedang menghadapi persoalan hidup.

Menjadi narasumber dalam meningkatkan kapasitas pelaku UMKM

“Biasanya yang datang ke pengajian memang sudah punya keinginan sendiri untuk belajar. Sementara masih banyak masyarakat yang belum terjangkau. Kita yang harus menjemput mereka,” ujarnya.

Gagasan itu lahir dari pengalaman sehari-hari. Selama bertahun-tahun, rumahnya menjadi tempat berkumpul berbagai kalangan. Mulai dari warga yang menghadapi persoalan hukum, pelaku usaha yang kesulitan mengembangkan bisnis, hingga anggota perguruan pencak silat dan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Dari situ muncul pemikiran bahwa penyelesaian masalah saja tidak cukup. Dibutuhkan pembinaan mental dan spiritual agar seseorang memiliki arah hidup yang lebih baik.

Kini, terdapat dua wadah pengajian yang rutin digelar. Pertama, Jaringan Ngaji Keluarga yang telah berjalan hampir empat tahun dengan jamaah sekitar 100 orang dan diasuh ulama dari Pondok Pesantren Al-Falah Ploso. Kedua, Halaqah Semesta Muhammad yang baru berjalan sekitar empat bulan dengan jumlah jamaah sekitar 20 orang dan diasuh oleh K. Ahmad Junaidi Shiddiq, Pengasuh pondok pesantren Bumi dzikrullah, yayasan As-Shiddiqi, Desa Nyabakan Barat,Batang-batang , Sumenep.

Dalam kegiatan tersebut, Firman menegaskan dirinya hanya berperan sebagai fasilitator dan koordinator.

Kajian keagamaan yang dilakukan di halaman rumah

“Saya hanya menyediakan tempat dan mempertemukan jamaah dengan para guru yang kompeten. Yang menyampaikan ilmu tentu para pengasuh,” katanya.

Jamaah yang hadir pun berasal dari berbagai kalangan. Mulai remaja, guru, ASN, pensiunan hingga pengusaha. Ada yang sedang merintis usaha, mengembangkan bisnis, maupun mencari jalan keluar dari kesulitan ekonomi yang dihadapi.

Konsep yang diusung sederhana. Pengajian dipadukan dengan semangat berbagi. Sedekah ilmu dilakukan melalui kajian keagamaan, sementara sedekah sosial diwujudkan dengan makan bersama setelah kegiatan selesai.

Tak hanya itu, Firman juga berusaha membantu pelaku usaha yang membutuhkan pendampingan. Jika ada persoalan yang tidak bisa ditanganinya, ia menghubungkan mereka dengan komunitas maupun mentor yang lebih kompeten, seperti Komunitas Tangan Di Atas (TDA).

“Kita tidak harus bisa menjawab semua persoalan. Yang penting membuka jalan agar mereka bertemu dengan orang yang tepat dan mendapatkan solusi,” terangnya.

Menjadi pemateri untuk para pelaku UMKM dan Mahasiswa

Menariknya, kegiatan tersebut terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama. Beberapa warga non-Muslim bahkan pernah mengikuti kegiatan yang digelar dan merasakan manfaat dari suasana kebersamaan yang dibangun.

Perjalanan hidup Firman sendiri tidak selalu mudah. Setelah menjadi anggota Polri pada 2003 dan pindah bertugas ke Kediri pada 2012, kondisi ekonominya saat itu masih serba terbatas. Gaji yang diterima habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, ia pernah menitipkan anak kepada orang tuanya karena keterbatasan ekonomi.

Namun, dengan ketekunan, ia mulai merintis usaha dari penjualan material granit hingga berkembang ke bidang interior dan furnitur. Dari perjalanan tersebut, Firman menyadari bahwa setiap keberhasilan merupakan amanah yang harus dibagikan kepada orang lain.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Prinsip itu yang saya pegang sampai sekarang. Justru saya yang paling banyak mendapatkan manfaat dan keberkahan dari kegiatan ini,” ungkapnya.

Kini, jamaah yang hadir tidak hanya berasal dari Kediri Raya, tetapi juga dari Tulungagung, Sidoarjo, dan sejumlah daerah lainnya. Semua berkumpul dalam satu tujuan, memperkuat spiritualitas sekaligus membangun semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Ke depan, Firman berharap wadah yang dirintisnya dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Semoga kegiatan ini terus tumbuh menjadi tempat yang menyejukkan hati, menguatkan langkah masyarakat, dan menghadirkan manfaat bagi banyak orang,” pungkasnya.(Bad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.