Ponpes Al-falah Ploso Pernah Dibom Belanda
KEDIRI- Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Falah, Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur , 12 Juni 2026, dibuka oleh Rois Aam PBNU, KH. Miftahul Akhyar, dengan memukul kenteng.

Pembukaan sebuah acara besar dengan kenteng ini, kurang biasa di momen besar seperti Munas dan Konbes NU. Biasanya, pembukaan ditandai dengan menabuh beduk atau lainnya. Ternyata, ada cerita tersendiri terkait dengan Kenteng ini.
Sebagaimana yang disampaikan oleh MC, sebelum momen menabuh kenteng sebagai tanda dibukanya Munas-Konbes NU, kenteng tersebut merupakan bekas bom belanda yang tidak meledak. Cerita, pada zaman agresi Belanda, Ponpes Al-Falah, Ploso, pernah akan dihancurkan oleh Belanda dengan menjatuhkan bom dengan ukuran yang cukup besar ke bangunan pondok. Namun, bom itu gagal meledak.
Bom Belanda yang tidak meledak inilah yang kemudian diabadikan, di-create sedemikian rupa, bahan peledaknya dibuang, kemudian selongsongnya dijadikan kenteng yang ditabuh setiap kali, sebagai tanda para santri mulai masuk kelas untuk belajar atau mengaji.
Sementara itu, Ketua PBNU KH. Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya, dalam sambutan pembukaan Munas-Konbes NU, mengatakan bahwa setiap ada gerakan untuk mencederai Nahdlatul Ulama, pasti tidak berhasil.
Pembukaan Munas dan Konbes NU di Ponpes Al-Falah Ploso ini, dihadiri para pengurus PBNU, para ketua PWNU se-Indonesia, para kyai sepuh antara lain KH. Mustofa Bisri, KH. Makruf Amin, KH. Anwar Iskandar, KH Anwar Mansur, KH. Kafabihi Makhrus, Mentri Agama Nazarudin Syamsudin, KH. Nurul Huda Jazuli, dan sebagainya. (mam)

Tinggalkan Balasan