Mega Proyek Berubah Jadi Hutan Belantara ?

6 Tahun Mangkrak, Proyek di Awal Bupati Dhito

KEDIRI- Mega proyek milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri yaitu Rest Area yang sebelumnya diharapkan menjadi semacam restoran atau area kuliner bagi pengunjung wisata di kawasan air terjun Dolo, Kecamatan Mojo, kini mangkrak total. Mega proyek yang dibangun pada 2020 itu, belum pernah sekalipun difungsikan sebagaimana mestinya.

PENUH TUMBUHAN LIAR : Bangunan Gazebo du bagian bawah proyek rest area yang mangkrak, terlihat dipenuhi tumbuhan liar hingga nyaris tidak terlihat bentuk bangunannya

Pantauan Kediri Post di lokasi proyek itu, sejumlah bangunan yang ada, mulai bangunan utama, tembok pagar proyek, sejumlah gazebo yang berada di bagian bawah, di sekitarnya banyak ditumbuh rumput liar seperti ilalang, pohon-pohon liar, hingga lumut-lumut dan sebagainya.

Proyek yang dilaksanakan di awal-awal tahun Hanindhito Himawan Pramana alias Dhito menjabat sebagai Bupati Kediri ini, sama sekali belum pernah difungsikan sebagaimana mesthinya. Sehingga terkesan, proyek ini sekadar diadakan untuk menghabiskan dana yang sudah disedialan, selanjutnya dibiarkan mangkrak.

DULU AMBRUK DITERJANG ANGIN : Bangunan utama proyek rest area yang permah ambruk total diterjang angin

Sebelumnya, ketika awal 2020, saat proyek rest area itu baru selesai, proyek itu sempat diterjang angin hingga bangunan utama ambruk. Saat itu, Komisi III DPRD Kabupaten Kediri, antara lain Antox Prapungka Jaya, sempat melihat langsung di lokasi proyek.

Pada saat sidak itu, mereka menemukan sejumlah kejanggalan. Dugaan sementara, ada kemungkinan kesalahan  konstruksi dan kualitas bahan-bahan yang dinilai rendah. Sehingga saat diterpa angin, bangunan utama langsung ambruk total. “Saya menduga, bangunan itu ambruk bukan murni karena angin kencang, tapi karena bangunannya kurang standar. Apalagi bangunan di lokasi yang rawan angin, perbukitan seperti itu,”ujar Antox, saat itu.

Menurut Antok, bahan bangunan yang digunakan juga dinilai kualitasnya kurang. Sebab menggunakan kayu jati muda. Pada tiang bangunan, tidak ada kancingan. Pada gentengnya, juga tidak ada kancingan. Risplangnya terkesan sekedar main tempel, tidak ada besinya. “Jadi, kualitas bangunan juga diragukan. Padahal nilai bangunan itu tiga setengah miliar lebih,”tandas Antox.

Usai ambruk diterpa angin, bangunan itu kemudian diperbaiki oleh pelaksana proyek. Namun setelah itu, bangunan itu dibiarkan begitu saja hingga sekarang, sehingga banyak ditumbuhi rumput dan tanaman liar. Sangat mungkin, kini banyak hewan liar berbisa seperti ular dan sebagainya di lokasi proyek yang mangkrak itu.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Kediri, Diana Herawati, saat dikonfirmasi Kediri Post melalui saluran selulernya, mengatakan dia tidak mengetahui terkait proyek tersebut. (mam)

Selain itu, secara tanda-tanda alam saat di cek di lokasi sekitar, tidak ada ranting-ranting pohon yang rusak, patah, dan sebagainya. Sehingga diragukan bahwa ambruknya bangunan itu karena murni bencana alam. “Ada warga dan perangkat desa di sana juga menilai bahwa bangunan itu kualitasnya kurang. Kita masih mengumpulkan data agar lebih lengkap,”jelas Antox.

Berkaitan dengan kasus ini, Antox mengaku Komisi III DPRD Kabupaten Kediri akan memanggil semua yang terkait dengan bangunan itu, mulai Dinas Perumahan dan Permukiman, Perencana, kontraktor pelaksana, dan sebagainya. “Secepatnya mereka akan kita panggil untuk memberikan keterangan,”tandas Antox. (mam)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.