Bangunan SLG Tidak Mencerminkan Budaya Kediri 

Dhito Diskusi dengan Pegiat Budaya Kediri 

KEDIRI – Budaya menunjukkan bangsa. Sebuah bangsa, tidak lepas dari budayanya. Sehingga kebudayaan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Untuk nguri-nguri budaya sendiri, para budayawan di Kediri meminta agar di Kediri memiliki gedung kesenian. Keinginan itu, kemarin disampaikan para budayawan saat diskusi dengan Hanindhito Himawan Pramana alias Dhito pada axara ‘Bawa Rasa Budaya’ di Yayasan Laskar Peduli Sesama (LSP) Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, yzng merupakan bagian dari kampanye Dhito-Dewi yang digelar DPC Partai NasDem.

.Pada diskusi itu, mereka juga mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah di bidang seni budaya.

DISKUSI BUDAYA : Dhito bersama para pegiat budaya saat bediskusi di Yayasan LPS

Pegiat Budaya Kediri, Khusnul Arif, menjelaskan gedung kesenian dan dewan kesenian di Kabupaten Kediri, merupakan kebutuhan dan harapan para pegiat seni budaya di Kediri. Sebab, pegiat seni-budaya memang menyandarkan ekonominya pada kegiatan kesenian dan kebudayaan. “Ini termasuk dalam rangka nguri-nguri Kabudayan Jawi, mulai wayang, petilasan, dan peninggalan sejarah sangat banyak sekali,”ungkap pria yang akrap disapa Pipin ini.

Pipin juga berharap, agar generasi muda juga banyak yang mempelajari sejarah dan budaya sendiri, sehingga budaya Jawa terus bisa langgeng dan tidak punah oleh gerusan budaya luar.

Mas pipin juga berharap kepada generasi muda, agar mempelajari sejarah yang ada, pasalnya jika generasi muda tidak mau belajar budayanya sendiri, lama-lama akan punah. “Jangan sampai kita meninggalkan sejarah dan kebudayaan, karena di sinilah kita ada, Luhuring Budoyo Kuncarane Bongso,”kata anggota DPRD dari Partai NasDem ini.

Menanggapi permintaan dan keluhan para budayawan itu, Dhito berjanji akan memenuhi permintaan mereka untuk membangun gedung kesenian. Untuk itu, mereka akan didampingi  dewan kesenian dan kebudayaan. “Sangat penting sekali nguri-nguri budaya untuk kembali melestarikan apa saja yang perlu dijaga di Kabupaten Kediri,”ujar Dhito.

Dhito juga menyinggung bangunan Simpang Lima Gumul (SLG). Menurut Dhito, bangunan SLG  belum mencerminkan sejarah Kabupaten Kediri. Jika dilihat dari bentuk dan estetika bangunan, terlihat seperti bangunan monumental di Prancis. “Di Kabupaten Kediri memiliki Jayabaya dan beberapa sejarah lainya. “Kenapa dari berbagai peninggalan, kok tidak ada yang  dijadikan icon?,”tandas Dhito dengan nada bertanya.

Dengan perhatian yang besar untuk kesenian dan kebudayaan, di harapkan Kediri mendatang bisa menjadi lebih kuat masyarakatnya dan ekonominya berkembang dengan baik. (sul/mam)

SLG Building Does Not Reflect Kediri Culture

KEDIRI – Culture shows the nation. A nation, cannot be separated from its culture. So that culture becomes an important part of people’s life. To appreciate their own culture, cultural observers in Kediri asked Kediri to have an arts building. That wish was conveyed yesterday by cultural observers during a discussion with Hanindhito Himawan Pramana alias Dhito on the axara “Bring a Taste of Culture” at the Laskar Peduli Sesama Foundation (LSP), Wonojoyo Village, Gurah District. They also complained about the government’s lack of attention in the arts and culture sector.
Kediri Cultural Activist, Khusnul Arif, explained that the arts building and arts council in Kediri Regency are the needs and hopes of cultural arts activists in Kediri. This is because art-cultural activists rely on their economies on artistic and cultural activities. “This includes the celebration of Kabudayan Jawi, from wayang puppets, petilasan, and so many historical relics,” said the man who is nicknamed Pipin.
Pipin also hopes that many of the younger generations will learn about their own history and culture, so that Javanese culture can continue to last and not be extinct by the scouring of external cultures.
Mas Pipin also hopes that the younger generation learns about existing history, because if the younger generation does not want to learn their own culture, they will eventually become extinct. “Don’t let us leave history and culture, because this is where we are, Luhuring Budoyo Kuncarane Bongso,” said this DPRD member from the NasDem Party.
Responding to the cultural figures’ requests and complaints, Dhito promised to fulfill their request to build an arts building. For that, they will be accompanied by the arts and culture council. “It is very important to take care of culture to return to preserving what needs to be maintained in Kediri Regency,” said Dhito.
Dhito also mentioned the Simpang Lima Gumul (SLG) building. According to Dhito, the SLG building does not reflect the history of Kediri Regency. When viewed from the shape and aesthetics of the building, it looks like a monumental building in France. “Kediri Regency has Jayabaya and several other histories. “Why from various relics, how come none of them have become icons?” Said Dhito in a questioning tone.
With great attention to arts and culture, it is hoped that in the future Kediri will become stronger in society and its economy will develop well. (sul / mam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.