Walikota Dorong Anak Muda Jadi Entrepreneur

KEDIRI – Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar mendorong generasi muda untuk menjadi entrepreneur di era serba digital ini. Sudah terbukti, banyak sekali entrepeneur muda yang sukses dengan menggunakan media digital.

DORONG ANAK MUDA JADI INTREPENEUR : Walikota Abdullah Abu Bakar saat memberikan kuliah ke mahasiswa UDINUS

Pada era revolusi industri 4.0 ini menempatkan teknologi informasi menjadi basis dalam kehidupan manusia. Apalagi di era globalisasi dan digital ini banyak peluang yang luar biasa. “Dulu industri harus punya uang dan pakai mesin. Sekarang kalau bisnis tidak perlu ruko, bisa jualan melalui sosial media. Bahkan sosial media ini memiliki massa yang besar dan sudah menggeser market yang non online,” ujarnya Abdullah Abu Bakar, saat memberikan kuliah umum pada mahasiswa Dinus Inside, Senin (21/9/20), yang diikuti 3.857 mahasiswa UDINUS Semarang dan 172 mahasiswa UDINUS Kediri.

Menurut Mas Abu, dulu orang berbisnis dengan online ditertawakan, beli lewat online takut. Tetapi sekarang semuanya menggunakan online. . “Ini terbukti juga oleh anak-anak muda yang punya peluang bisnis,  menggunakan teknologi untuk bisnis, antara lain start up seperti Grab, Gojek. Dulu mereka ditertawakan. Sekarang Instagram, Facebook dan Youtube bisa di monetize . Bukalapak juga begitu, dulu semua takut untuk beli online, sekarang semuanya dilakukan secara online,” ujarnya.

Mas Abu menembahkan, anak-anak muda harus terus diasah jiwa kompetitifnya, agar mereka  memiliki daya saing. Di Indonesia ada beberapa contoh anak-anak muda yang sukses, antara lain William Tanuwijaya pendiri Tokopedia, Achmad Zaki pendiri Bukalapak, Karin penjual slime dari Kota Kediri, Bayu Skak dan Erix Soekamti. “Kata Pak Presiden, kelemahan kita di daya saing. Padahal kreativitas kita semua ada. Sumber daya alam dan sumber daya manusia semua ada. Daya saing ini kita asah, sehingga kita bisa menjadi negara maju,” ungkapnya.

Syarat untuk menjadi negara maju, lanjut Mas Abu, jumlah pelaku entrepreneur harus lebih dari 14 persen dari rasio penduduknya. Sementara di Indonesia, pelaku entrepreneur baru 3,1 persen. Dengan banyaknya entrepreneur akan membantu membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan produktivitas masyarakat, dan mengoptimalkan potensi daerah. “Saya lihat entreprenuer di Kediri itu, juga sudah mulai mempekerjakan orang lumayan besar. UMKM itulah yang menjadi penopang kuat di Indonesia, khususnya di Kota Kediri. Tentu sangat luar biasa jika ditambah dengan sektor wisata,” jelasnya.

Kepada para mahasiswa UDINUS, Mas Abu juga membagikan tips saat menjadi mahasiswa agar jadi entrepreneur sukses. Pertama, evaluasi keterampilan, pengetahuan, dan tujuan. Kedua, pilih ide bisnis yang spesifik yang bisa dikembangkan. Ketiga, studi pasar. Keempat, buat rencana bisnis sedini mungkin. Kelima, temukan mentor yang cocok. Keenam, action . “Mumpung di masa pandemi ini jangan rebahan saja. Tapi pelajari semua hal yang positif. Nanti setelah pandemi selesai akan terjadi loncatan-loncatan secara dahsyat. Karena selama pandemi sudah banyak belajar,” pungkasnya. (adv/bd)

The Mayor Encourages Young People to Become Entrepreneurs

KEDIRI – Mayor of Kediri Abdullah Abu Bakar encourages the younger generation to become entrepreneurs in this all-digital era. It has been proven that there are many successful young entrepreneurs using digital media.
In the era of the industrial revolution 4.0, information technology is the basis of human life. Especially in this era of globalization and digital, there are many extraordinary opportunities. “Previously, the industry had to have money and use machines. Now, if businesses don’t need shop houses, they can sell them through social media. Even this social media has a large mass and has shifted the non-online market, “said Abdullah Abu Bakar, while giving a public lecture for Dinus Inside students, Monday (21/9/20), which was attended by 3,857 UDINUS Semarang students and 172 UDINUS students. Kediri.
According to Mas Abu, people used to make fun of doing business online, they were afraid to buy online. But now everything is online. . “This is also proven by young people who have business opportunities, using technology for business, including start-ups such as Grab, Gojek. They used to be laughed at. Now Instagram, Facebook and Youtube can be monetized. Bukalapak is the same way, before everyone was afraid to buy online, now everything is done online, “he said.
Mas Abu added that young people must continue to hone their competitive spirit, so that they have competitiveness. In Indonesia there are several examples of successful young people, including William Tanuwijaya, the founder of Tokopedia, Achmad Zaki, the founder of Bukalapak, Karin, a slime seller from Kediri, Bayu Skak and Erix Soekamti. “The President said, our weakness is in competitiveness. Even though we all exist creativity. Natural resources and human resources are all there. We are honing this competitiveness, so that we can become a developed country, “he said.
The requirement to become a developed country, continued Mas Abu, is that the number of entrepreneurs must be more than 14 percent of the population ratio. Meanwhile in Indonesia, entrepreneurs are only 3.1 percent. With so many entrepreneurs, it will help open jobs, increase community productivity, and optimize regional potential. “I see entrepreneurs in Kediri, have also started to employ quite a large number of people. UMKM is the strong support in Indonesia, especially in the city of Kediri. Of course, it is extraordinary if we add it to the tourism sector, ”he explained.
To UDINUS students, Mas Abu also shared tips when he was a student in order to become a successful entrepreneur. First, evaluation of skills, knowledge, and goals. Second, choose a specific business idea that can be developed. Third, market studies. Fourth, make a business plan as early as possible. Fifth, find a suitable mentor. Sixth, action. “As long as during this pandemic, don’t just lie down. But learn all the positive things. Later when the pandemic is over there will be tremendous jumps. Because during the pandemic we have learned a lot, “he concluded. (bad)

Kirim masukan
Histori
Disimpan
Komunitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.