Liga 1 Ditunda, Pemain Persik Budidaya Lele

KEDIRI – Belum adanya kepastian bergulirnya kembali kompetisi Liga I, membuat para pemain Persik harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Pasalnya, beberapa pemain Persik  menggantungkan ekomi mereka dari industri sepakbola. Seperti yang dilakukan Yusuf Meilana. Pemain muda Persik Kediri ini memilih menekuni budidaya ikan lele. Maklum, sejak meninggal  ayahnya sekitar satu tahun lalu, pria yang bergabung di tim berjuluk macan putih sejak 2017 ini menjadi tulang punggung keluarga. Dia harus menghidupi dua adiknya yang masih duduk di bangku SMK dan SD.

MENUNGGU KOMPETISI : Yusu Meilana,, pemain Persik Kediri, menunggu bergulirnya Liga I dengan beternak lele

Ditemui kediripost kediamannya, pria kelahiran 1998 ini mengaku usaha budidaya ikan lele ini sudah dia jalani sejak 2018 silam.  Dia belajar ternak lele dari temannya. “Alhamdulillah pada 2018, saat Persik juara liga 3, saya bisa membuka usaha budidaya ikan lele sendiri, modal saya ya dari uang juara tersebut,” ungkapnya.

Yusuf menjelaskan, awal dia menekuni usaha budidaya ikan lele ini, modal dia sekitar Rp 14 juta. Dengan modal itu, dia sudah bisa mendapatkan tempat dan indukannya. “Kalau saya ada latihan atau kompertisi, biasanya saya dibantu oleh ibu dan adik untuk mengurusnya. Untuk bibit lele siap jual biasanya membutuhkan waktu sekitar  45-60 hari,” jelasnya.

Usaha yang dia geluti ini, juga pernah mengalami kerugian belasan juta rupiah. Karena dia harus fokus latihan selama musim liga 2. “Dulu saat Persik Kediri berlaga di Palembang selama beberapa minggu, semua ikan yang ada di kolam mati, sehingga tidak panen,” terang pria asal Desa Susuhbango, Kecamatan Ringinrejo itu.

Yusuf mengakui, lambat laun hasil usaha budidaya ikan lele mampu membantu ekonomi keluarga. Paling tidak, selama dihentikannya kompetisi liga I ini, dia masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan mengisi tabungan masa depannya. (sul/mam)

League 1 Postponed, Persik Players Catfish Cultivation

KEDIRI – There is no certainty about the return of the First League competition, making the Persik players have to rack their brains to meet their economic needs. The reason is, some Persik players depend their economy on the football industry. As did Yusuf Meilana. This young Persik Kediri player chose to pursue catfish farming. Understandably, since his father died about a year ago, the man who joined the team nicknamed the white tiger since 2017 has become the backbone of the family. He has to support his two younger siblings who are still in SMK and SD.
When met by his residence, the man who was born in 1998 admitted that he has been doing this catfish farming business since 2018. He learned catfish from his friend. “Alhamdulillah, in 2018, when Persik won the 3rd league, I was able to open my own catfish farming business, my capital is from the winning money,” he said.
Yusuf explained that at the beginning he was involved in this catfish farming business, his capital was around Rp. 14 million. With that capital, he was able to get a place and his parents. “If I have training or competition, I usually get help from my mother and sister to take care of it. For catfish seeds ready to sell, it usually takes about 45-60 days,” he explained.
The business he is in, has also experienced losses of tens of millions of rupiah. Because he has to focus on training during the second league season. “Back when Persik Kediri competed in Palembang for several weeks, all the fish in the pond died, so they didn’t harvest,” explained the man from Susuhbango Village, Ringinrejo District.
Yusuf admitted that gradually the results of catfish farming were able to help the family economy. At least, during the termination of this first league competition, he can still provide for his family and fill his future savings. (sul / mam)
Kirim masukan
Histori
Disimpan
Komunitas

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.