Mencermati Kasus Suap Masal di Kabupaten Kediri (10)
UNISMA Hanya ‘Dipinjam Bendera’ Semua Sudah Diatur
Kasus dugaan suap pada dugaan kong kalikong pengisian perangkat desa masal di Kabupaten Kediri, 2023, yaitu pengisian perangkat desa di 163 desa, 25 kecamatan, dengan 320 lowongan perangkat desa, seakan menjadi semacam ‘pesta uang bagi pejabat’. Sebab, diduga uang mengalir kemana mana.
Kini, kasus tersebut sedang disidangkan di Pengadilan Tipikor Surabaya, dengan terdakwa Imam Jamiin (Kades Kalirong, Kec. Tarokan), Darwanto (Kades Pojok, Kec, Waytes), dan Sutrisno (Kades Mangunrejo, Kec. Ngadiluwih). Berikut laporannya .
Oleh : Imam Subawi
Wartawan Kediri Post
Uang mengalir pada kasus dugaan suap masal terkait pengisian lowongan perangkat desa masal di Kabupaten Kediri, terus melebar. Selain ke para Camat, para Kapolsek, Para Danramil. sebagian uang itu, ternyata juga mengalir ke kyai, atau guru oleh Wahid Hasyim, salah seorang saksi. Nilainya, Rp 200 juta.

KIRIM UANG KE GURU atau KYAI : Wahid Hasyim, saat memberikan kesaksian di depan persidangan Tindak Pidana Korupsi, Surabaya
Sedangkan Universitas Islam Malang (UNISMA), sebagai pihak ke-tiga dalam penyelenggaraan ujian pengisian lowongan perangkat desa masal di Kabupaten Kediri 2023, secara umum, sebenarnya hanya ‘dipinjam bendera’.
, secara praktis Unisma tidak menjalankan apapun tugas-tugas yang menjadi kewajiban sebagai pihak ke-tiga penyelenggara ujian, misalnya membuat soal. menyiapkan perangkat komputer, membangun instalasi CAT (Computer Assisted Test), melakukan penilaian, merekap nilai, mengumumkan nilai, dan sebagainya.
Semua pekerjaan pihak ke-tiga itu, dilakukan oleh orang lain di luar Unisma. Praktis, Unisma seakan-akan hanya menengok santai, semua selesai. Pertama, penyediaan laptop, sudah disediakan oleh CV. Alfa Media Perkasa, yang salah satu pengelolanya adalah Syaifudin, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Kediri.
Kedua, membuat soal, sudah dilakukan oleh Iwan Wahyu Setiawan, salah seorang karyawan Universitas Islam Kadiri (Uniska). Dia membuat soal dengan mendownload dari bank soal internet, kemudian dikirim ke Unisma melalui Wahid Hasyim, saksi yang lain. Setelah disetujui Unisma, soal-soal itu dikembalikan ke Iwan kemudian dijadikan soal pada ujian pengisian perangkat desa masal di SLG.
Ketiga, terkait aplikasi Computer Assisted Test (CAT), dilakukan oleh Stevanus Aditya, warga Kota Perumahan Wilis Kediri, orang yang direkrut oleh Mahatir Muhamad, teman Wahid Hasyim, yang diplot untuk mengisi posisi IT.
Stevanus inilah yang melakukan setting aplikasi CAT, diman pada aplikasi CAT itu, dibuat secara sistemik otomatis nilai yang dihasilkan oleh nama-nama peserta yang diinginkan lolos ujian atau ‘jago’, bisa naik atau bertambah, sehingga nilainya lebih baik dibanding peserta lain. Meskipun sebenarnya, nilai peserta lain bisa lebih baik dibanding nilai ‘jago’.
Stevanus menjelaskan, agar permainan nilai ini tidak mencurigakan, tidak kelihatan, maka selisih nilai yang setting tidak terlalu tinggi dibanding nilai peserta lain, yaitu sekitar 2, 3, atau 4 di atas peserta lain, dengan ring penambahan nilai sekitar 1-10 angka. “Mintanya begitu,”ujar Stevanus.
Ditanya terkait trouble-nya ratusan komputer saat ujian berlangsung, Stevanus menjelaskan, saat dia melakukan setting memasukkan aplikasi CAT ke laptop, ada banyak laptop yang tidak support. Selain itu, PIN atau pasword loading yang sebenarnya untuk ujian siang, digunakan untuk ujian pagi. Sehingga saat aplikasi CAT dijalankan, tidak bisa loading, ratusan laptop menjadi trouble.
Sebenarnya, stevanus sudah menyarankan agar dilakukan uji coba dan validasi sistem aplikasi CAT yang dia sematkan itu. Sehingga bisa diketahui jika ada yang error. Namun uji coba itu tidak dilakukan, langsung diaplikasikan saat ujian. “Sebenarnya sudah saya sarankan untuk uji coba,”tandasnya.
Baik Iwan Wahyu Setiawan maupun Stevanus, merupakan orang yang direkrut oleh Wahid Hasyim untuk memenuhi permintaan Sutrisno, Bendahara Paguyuban Kepala Desa (PKD), salah satu terdakwa, agar nama-nama ‘jago’ bisa otomatis lolos, atau ‘pengkondisian’ berjalan lancar.
Upah mereka untuk melancarkan proses pengkondisian pengisian perangkat desa ini, mencapai miliaran rupiah. Wahid Hasyim sebagai semacam koordinator lapangan, mengaku salah satu uang hasil dari pekerjaan ini, diberikan ke guru spiritual atau kyai-nya sebanyak Rp 200 juta. Sebab, sebelum melakukan pekerjaan ini, dia konsultasi ke gurunya itu. “Saya nurut saja sama guru saya,”katanya, yang langsung disambut senyum-senyum oleh para pengunjung sidang. Hanya saja, Wahid tidak menyebut siapa nama gurunya itu. (mam/bersambung)

Tinggalkan Balasan