KEDIRI -Para petani tebu di Kediri dan sekitarnya, kini banyak yang enggan mengirim tebu langsung ke PG untuk digiling menjadi gula. Mereka banyak yang memilih setor hasil panen tebu ke, pengepul, atau istilah populernya Pok-Pokan, dibanding setor langsung ke Pabrik Gula (PG). Alasannya, uang penjualan hasil panen tebu mereka bisa lebih cepat cair dan perhitungan rendemennya dinilai lebih standar dibanding jika mereka kirim langsung ke PG. “Uangnya bisa langsung cair,”ujar Khoirul, salah seorang petani tebu di Ngadiluwih, yang biasanya mengirim tebu hasil panennya ke Pok-Pokan.

POK-POKAN : Salah satu lokasi Pok-Pokan di Kediri yang menerima tebu hasil penen petani dengan sistem bayar yang lebih cepat dibanding ke PG
Khoirul menjelaskan, sekarang ini banyak Pok-Pokan yang menerima tebu langsung dari petani, antara lain di Ngadiluwih, Kandat, dan Ringinrejo. Usai menerima tebu dari petani, Pok-Pokan itu kemudian mengirim tebu ke PG untuk digiling, misalnya ke PG Meritjan, PG Pesantren, atau PG Ngadirejo. Bahkan, sebagian dikirim ke Malang atau Madiun. “Sekarang kan bebas mau kirim tebu ke PG mana saja, tidak ada batasan. Bisa memilih ke PG yang bisa rendemennya tinggi,”tandasnya.
Menurut Khoirul, bagi petani tebu golongan kecil seperti dirinya, merasa lebih nyaman dengan mengirim tebu ke Pok-Pokan dibanding ke PG langsung. Mengingat, uangnya bisa langsung cair. Kalau mengirim tebu ke PG, uangnya baru cair sekitar 1 bulan hingga 3 bulan. “Kalau petani kecil ya gak kuat menunggu uang cair dua bulan. Kalau uang segera cair, kan uangnya bisa untuk apa atau apa, kebutuhan yang mendesak. Toh umumnya harganya tidak jauh berbeda dari harga PG,”tambahnya.
Bagi Khoirul, ada beberapa keuntungan ketika mengirimkan tebu ke Pok-Pokan. Yang utama uang cepat cair. Ke dua, rendemen lebih standar. Ke tiga, tidak antre terlalu lama. Ke empat, tidak banyak ribet. “Simpel, cepat. Terutama ya uangnya bisa cepat cair,”katanya. (mam)

Tinggalkan Balasan