Korban Koperasi Lanceng, Geruduk Polres Kediri Kota (2)
KEDIRI- Kedatangan para korban dugaan ‘investasi bodong’ berdalih kemitraan, Koperasi Niaga Mandiri Sejahtera Indonesia (MNSI) atau Koperasi Madu Lanceng, ke Mapolres Kediri Kota, Kamis (9/6/2022) secara gerudukan, seakan kembali membangkitkan semangat para korban untuk kembali menuntut pengembalian uangnya dan berharap polisi benar-benar serius menangani masalah kasus itu. Sebab, korbannya cukup banyak yaitu sekitar 8 ribu lebih dengan nilai yang sangat besar, diprediksi bisa mencapai sekitar Rp 1 triliun.

AUDIENSI : Pertemuan antara perwakilan para korban Koperasi NMSI dengan KBO Reskrim di Ruang Panel Data Polres Kediri Kota
Pada saat pertemuan antara perwakilan korban dengan KBO Reskrim Ipda Indra Maret, di Ruang Panel Data Polres Kediri Kota, Indra sempat mengaku kurang kekurangan bukti terkait laporan ‘pencurian’ data dan uang oleh Anton. Hanya saja, Indra tidak menyebutkan bukti apa yang kurang, yang dibutuhkan polisi.”Kita kekurangan bukti,”ujar Indra.
Menanggapi pernyataan Indra ini, Galih, salah seorang perwakilan asal Sidoarjo, mengatakan pihaknya siap memberikan bukti-bukti yang dibutuhkan polisi. Bahkan, mereka datang ke Mapolres Kediri Kota itu sudah dengan membawa bukti-bukti yang mereka miliki. “Sekarang kita sudah membawa setumpuk bukti, jika diperlukan, siap kita serahkan,”jelas Galih.
Mensikapi kesiapan bukti dari korban Koperasi NMSI ini, Indra tidak langsung bersedia menerima atau menyampaikan alat bukti apa yang kurang. Indra mengatakan akan menyampaikan alat bukti apa kurang, itu kepada para perwakilan korban yang ditunjuk untuk berkomunikasi dengan polisi, terkait perkembangan pemeriksaan kasus tersebut. “Nanti, apa yang kami butuhkan, kita sampaikan melalui perwakilan yang ditunjuk,”tandasnya.
Sementara itu, Adi, salah seorang korban dari Blitar, ditemui di halaman Mapolres Kediri Kota, mengaku heran polisi belum bisa menangkap Cristian Anton Hardianto alias Anton, ketua Koperasi NMSI yang melarikan diri. Padahal, laporannya sudah 1,5 tahun.
Dia membandingkan dengan gerak polisi yang bisa menangkap terduga teroris meskipun di persembunyiannya yang sangat sulit. “Polisi itu alatnya lengkap, canggih-canggih, dan polisinya sampai ke desa-desa. Menangkap teroris di leng semut (rumah semut,red) saja bisa, masak menangkap Anton gak bisa?,”katanya dengan nada tanya, sekaligus heran dan setengah kurang percaya. (mam/bersambung)

Tinggalkan Balasan