Tanpa Pendidikan Agama Sejak Dini, Buka Situs Pornografi
KEDIRI – Akhlak, tata krama, rasa keberagamaan, dan moralitas generasi Kota Kediri ke depan, di masa depan terancam mengalami degradasi, atau penurunan. Ancaman degradasi moral dan akhlak itu, sebagai salah satu pengaruh dari diterapkannya Full Day School (FDS) atau 5 hari sekolah di Kota Kediri, sejak September 2023 lalu.
Prediksi penurunan moral dan akhlak generasi Kota Kediri ini, merupakan salah satu kesimpulan hasil dialog sejumlah pengurus Madrasah Diniyah (Madin), se-Kota Kediri, yang digelar oleh FKDT Kota Kediri, yang digelar pada Jumat (06/10/2023), di Padepokan Pesantren Gus Miek, Jl KH Hasyim Asy’ari, Kelurahan Banjarmlati, Kota Kediri, dengan tema “Dampak Penerapan 5 hari sekolah oleh Pemkot Kediri’.
Hadir pada acara itu, antara lain anggota DPRD Kota Kediri, Ashari, Dinas Pendidikan Kota Kediri, dan Ibnu Qoyyim. Sedangkan FKDT Kota Kediri, di bawah kepemimpinan KH Melvien Zainul Asyikin, M.Pd.I, Pengasuh Ponpes Al-Mahrusiyyah Lirboyo, Kota Kediri.
Sekretaris DPC FKDT Kota Kediri, Fakhrur Rozi, menjelaskan pihaknya menolak penerapan 5 hari sekolah atau Full Day School di Kota Kediri, karena akan mengurangi hingga terhapusnya kesempatan anak-anak di Kota Kediri untuk mendapatkan pendidikan agama di TPQ/TPA atau Madin, yang biasanya dilaksanakan pada sore hari.
Padahal, pendidikan agama merupakan salah satu pembentukan mental, akhlak, dan moral generasi ke depan. Jika anak-anak tidak mendapatkan pendidikan agama sejak dini, diprediksi akan berpengaruh pada mental, sikap moral, dan akhlak generadi masa depan Kota Kediri. “Situasi ini, tentu sangat berbahaya,”jelas Rozi.
Menurut Rozi, pihaknya juga sudah mengirim surat resmi ke Wali Kota Kediri, tentang penolakan atas kebijakan full day school ini. Harapannya, kebijakan ini segera dihapus.
DPC FKDT Kota Kediri telah Melayangkan Surat Resmi Penolakan Kebijakan tersebut pada tanggal 25 September kepada Walikota Kediri
Sementara itu, Afifah, salah satu ustadzah dari Madin Attaqwa, Lingkungan Jegles, Kelurahan Blabak, Kota Kediri, menyampaikan keprihatinannya terhadap nasib akhlaq anak-anak generasi Kota kediri ke depan, mengingat kurangnya pendidikan agama pada anak-anak.
Afifah mencontohkan, sebelum penerapan full day school, anak-anak yang belajar mengaji di Madin Attaqwa, satu kelas sekitar 20 anak. Tetapi setelah diterapkan 5 hari sekolah, rata-rata tinggal sekitar 3 anak dalam satu kelas. “Kami sudah keliling ke para wali santri, menanyakan mengapa anaknya tidak berangkat mengaji. Mereka menjawab, bahwa anak-anak mereka sudah capek di sekolah, sehingga tidak berangkat mengaji,”kata Afifah.
Yang lebih miras, lanjut Afifah, pada Sabtu dan Minggu, saat sekolah libur, umumnya anak-anak lebih marak bermain handphone, yang bias berdampak negative, karena sebagian anak anak itu membuka situs pornografi. (mam)

Tinggalkan Balasan