Ada Money, Tidak akan ada yang Muni?
Oleh : Imam Subawi
Wartawan Kediri Post
Beberapa hari terakhir, saya banyak mendapatkan tanggapan balik dari berita Kediri Post berjudul ‘Denny Vs Dhito, Nyata atau Mimpi’? . Dari sekitar 36 orang yang memberikan tanggapan melalui saluran WhatsApp, sebanyak 19 di antaranya, menyebut ‘Mimpi’. Hanya ada 12 yang menyakini akan ‘Nyata’. Sedangkan yang lain, umumnya justru bertanya balik, yang intinya, menurut Mas Imam bagaimana? Namun, ada juga yang semula menyebut mimpi, beberapa saat kemudian Kembali mengirim WhatsApp, ‘80 persen tarung’.
Umumnya, saya tidak bertanya balik untuk memperdalam alasan mereka, baik yang meyakini ‘Mimpi’ maupun yang meyakini ‘Nyata’. Misalnya, apakah itu artinya di Kabupaten Kediri akan terjadi kembali Dhito Vs Bumbung Kosong? Hanya ada calon tunggal? Mengapa begitu? Apakah Dhito dinilai sangat sukses dalam memimpin Kediri? sehingga tidak akan ada yang ‘berani’ bersaing? Atau ada ‘ketakutan’ dengan beberapa politisi?
Sebaliknya, saya juga tidak bertanya lebih dalam kepada pengirim WA yang menyebut ‘Nyata’. Apa alasan mereka? Misalnya, apakah Dhito sudah melemah kekuatannya? Atau sudah tidak ada lagi ‘ketakutan’ di kalangan politisi ? atau mereka menilai banyak kekurangan di kepemimpinan Dhito?
Sedikit yang saya pahami, sering terjadi cara berfikir politisi, cara kerja, cara pandang, kepentingan yang dibawa, termasuk ‘ghiroh’ politiknya, sering berbeda dengan idealisasi yang dibayangkan di sebagian masyarakat, terkait idealitas kepemimpinan dan kepemerintahan. Bahkan di tingkat pemilih pun, cara pandang, cara bertindak, cara berpikir, perilaku politik, dan keputusan untuk memilih calon, mereka memiliki pola sendiri sendiri.
Alasan umum yang sering kita dengar dari elit partai di daerah, mengapa partai tidak mengusung calon yang berbeda? Tidak berani merekom calon lain? ‘Soal rekom, itu urusan DPP. Daerah tidak bisa apa-apa,”
Bagi sebagiab wartawan, juga sebagian kalangan masyarakat, calon tunggal tentu kurang menarik, kurang dinamis, kurang ada greget riak-riak yang mengitari Pilkada. Muncul juga sejumlah pertanyaan yang kadang menggelitik, seberapa besar sebenarnya ‘ketakutan’ para politisi? Apakah memang di Kediri tidak ada satu pun yang layak menjadi calon Bupati selain Dhito? Atau semua politisi sudah 100 persen pragmatisme murni? Yang penting ada money, tidak akan ada yang muni (bersuara,red)?
Meskipun sebagian masyarakat juga ada yang meyakini, siapapun yang jadi Bupati, tidak akan banyak membawa perubahan yang signifikan yang dirasakan masyarakat akar rumput ? Betulkah di Pilkada serentak 2024 nanti, tidak ada partai yang ‘berani’ mengusung calon Bupati di luar Dhito? Wallahu a’lam/

Tinggalkan Balasan