KEDIRI – Upacara Manusuk Sima, merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dilepaskan dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Kediri. Upacara Manusuk Sima merupakan sebuah peristiwa penting yang terjadi sejak 1.142 tahun lalu, yang menunjukkan sejarah berdirinya Kota Kediri, berdasar Prasasti Kwak yang ditemukan di Desa Ngabean, Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah.

BANTUAN SOSIAL PENGGANTI MANUSUK SIMA : Pembenrian bantuan ke lembaga sosial untuk menggantikan prosesi upacara Manusuk Sima, karena terhalang masa pandemi covid-19
Pada prasasti Kwak tersebut berangka tahun 801 saka atau tanggal 27 Juli 879 M, yang menunjukkan bahwa wilayah Kota Kediri mulai berdiri. Sehingga setiap tanggal 27 Juli diperingati Hari Jadi Kota Kediri.
Dilakukannya Ritual Manusuk Sima, bertujuan agar masyarakat Kota Kediri dijauhkan dari berbagai bentuk bencana yang mungkin terjadi. Rangkaian ritual Menusuk Sima ini ditandai dengan pembacaan mantera dan pembakaran kemenyan oleh sang makudur atau sesepuh adat.
Selanjutnya prosesi tumbal bumi yakni pemotongan ayam cemani atau ayam hitam, memecah telur dan menaburkan abu. Ritual ini memiliki makna siapapun mereka yang berani melanggar sabda alam akan mendapat malapetaka.
Wali Kota Abdullah Abu Bakar menjelaskan, upacara Manusuk Sima sudah menjadi tradisi tahunan untuk menghormati para leluhur pendiri Kediri. Sehingga tidak bisa dihapus dari rangkaian Hari Jadi Kota Kediri. Nilai – nilai yang terkandung dalam Upacara Manusuk Sima menjadi pengingat atau tetenger, bahwa ada masa awal ketika Kediri ditetapkan menjadi sebuah wilayah perdikan, yang berdiri dan tetap bertahan hingga sekarang. “Kota Kediri ini sudah sangat tua, sudah memasuki usia ke 1.142 tahun. Kota ini telah melewati banyak era kepemimpinan, mulai dari jaman kerajaan, penjajahan, pasca kemerdekaan hingga era kepemimpinan saya,” jelasnya. (bad/adv)

Tinggalkan Balasan