Wanita Hamil, Korban Undercover Buying?

KEDIRI – Nuril Hamida alias Mida, 21, wanita yang sedang hamil tua, dan Ino, 30, suaminya, kini sedang menghadapi ujian berat. Sebab, Mida dituntut 8 bulan penjara dan Ino dituntut 18 bulan penjara dengan tuduhan melakukan jual beli hewan yang dilindungi, yaitu 8 ekor Lutung Budeng dan 1 ekor Elang Brontok. Kini, dia sedang menunggu putusan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kota Kediri. Sebelumnya, mereka ditangkap Polda Jatim pada 8 Februari 2021.

KORBAN UNDERCOVER BUYING? : Mida, terdakwa yang sedang hamil dan Danan Prbandaru SH, penasehat hukumnya

Dalam persidangan, para terdakwa membantah hewan-hewan yang dilindungi itu miliknya. Meskipun berada di rumahnya. Dia menyebut Satwa tersebut milik Danang, anggota Polda Jatim. Dia menerima Satwa itu dari Agung Prasetyo asal Mojokerto. yang diantar melalui bus Harapan Jaya di perempatan Jetis, yang diterima pada 6 dan 7 Februari 2021.

Sebelumnya, Ino dan Danang tidak saling kenal, tapi Ino sudah kenal Agung melalui facebook karena sama-sama pecinta hewan.  Ino tahu bahwa satwa-satwa itu milik Danang setelah diberitahu Agung. Selain itu, Agung juga memberitahu bahwa Satwa-Satwa itu akan diambil oleh Danang pada 8 Februari 2021. Ternyata, 8 Februari 2021 merupakan saat dilakukan penggerebekan.

Sedangkan dalam kesaksiannya di persidangan, Danang menjelaskan bahwa satwa dalam persidangan itu benar milik para terdakwa dan dirinya tidak ada perjanjian-perjanjian atau persoalan sama sekali dengan para terdakwa. Dia datang ke rumah terdakwa pada 8 Februari 2021, hanya untuk melakukan penangkapan.

Sementara itu, Penasehat Hukum (PH) Mida dan Ino, Danan Prabandaru SH, usai membacakan Pledoi di persidangan di PN Kota Kediri, Senin (28/6/2021), menjelaskan dua terdakwa itu dia dinilai merupakan korban undercover buying dengan menciptakan TKP. Berdasarkan fakta-fakta persidangan, dua kliennya ini konsisten mengaku tidak memiliki hewan yang dimaksud. Mereka hanya dititipi Agung Prasetyo.  “Kami sudah berkali-kali meminta agar server chat WA antara Ino dengan Danang dibuka di persidangan. Karena di situ bisa menunjukkan apa saja komunikasi mereka dan bisa menunjukkan bahwa satwa itu bukan milik Ino dan Mida. Tapi permintaan buka server itu ditolak majelis hakim,”kata Danan.

Mengingat tidak ada bukti yang tegas tentang kepemilikan Ino terhadap satwa itu, baik dalam bentuk transaksi jual beli di rekening, keterangan para saksi, tidak dibukanya bukti server chat WA, dan sebagainya, Danan meminta majelis hakim membebaskan para terdakwa dari seluruh dakwaan. “Kami minta kliennya kami dibebaskan. Karena tidak ada bukti yang mengarah bahwa Satwa itu milik para terdakwa,”jelasnya. (mam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *