1 Paket Proyek, 4 Pekerjaan, 2 Tidak Dikerjakan?

KEDIRI – Indikasi kemungkinan terjadi proyek yang diduga tidak dilaksanakan secara utuh sebagaimana perencanaan pada satu paket proyek, kembali ditemukan. Yaitu di proyek peninggian, pengaspalan, serta pembenahan saluran air dan tutup saluran di Jl. Giki, Semampir, Kota Kediri, tahun 2018. Pos proyek itu di Satker Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri.

TIDAK DIKERJAKAN? : Saluran air Jl. Giki Semampir, yang tidak ikut dikerjakan dalam satu paket proyek

Sebelumnya, di proyek TPA 3 Klotok, juga ditemukan adanya pekerjaan yang secara fisik saat ini tidak ditemukan meskipun ada di perencanaan, yaitu pagar berduri keliling TPA dan penanaman pohon keliling TPA. Kini, proyek TPA 3 sedang dalam penyelidikan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur.

Berdasarkan data yang dikumpulkan kediripost, pada Lempat bentuk pekerjaan proyek itu tercantum dalam 1 paket pekerjaan dengan nilai Pagu Paket Rp 707 juta lebih, lelang proyek itu kemudian dimenangkan oleh CV. Delya Abadi, Nganjuk, dengan penawaran bernilai Rp 539,9 juta lebih.

Realitas fisik di lapangan yang ditemukan, pekerjaan peninggian jalan dan pengaspalan jalan di lokasi tersebut memang sudah dilakukan. Tetapi, untuk dua item pekerjaan pembenahan saluran dan tutup saluran, tidak ditemukan. Saluran airnya tetap seperti semula, seperti yang sudah ada sejak lama. Saluran air yang retak-retak dan ambrol, juga masih terlihat jelas.

Sedang  tutup saluran airnya, juga tidak ada. Di sepanjang  jalan depan Giki Semampir itu, saluran air yang ada adalah tutup saluran yang dilakukan secara mandiri oleh warga sekitar, khususnya yang ada di depan rumah – rumah warga. Sehingga lebar dan ketinggiannya tidak sama, sesuai dengan selera warga sendiri. 

Haryono, salah seorang warga, membenarkan adanya paket proyek 4 pekerjaan di lingkungannya. Hanya saja, soal saluran air dan tutup saluran air yang seharusnya menjadi satu paket proyek itu, tidak dikerjakan. Sehingga saat hujan deras, jalan depan Giki itu banjir dan sering memasuki rumah warga. “Kalau saluran airnya juga dikerjakan, meskipun ada banjir tapi setidaknya sangat membantu, tidak terlalu parah,”ujarnya, saat ditemui di rumahnya, yang dibenarkan oleh warga lain.   

Sementara itu, Nurul Mubin, direktur CV. Delya Abadi, saat dikonfirmasi melalui saluran WA, belum memberikan jawaban. Begitu juga dengan Chairul Anam, yang disebut sebagai petugas lapangan CV. Delya Abadi di proyek itu, juga belum memberikan jawaban.

Sedangkan Sunarto, dari DPUPR yang mengaku ikut menangani proyek itu, menjelaskan proyek itu awalnya diusulkan sekitar Rp 2 miliar, tetapi dana yang turun hanya sekitar Rp 900 juta. Sehingga Rancangan Anggaran Belanja (RAB)-nya hanya untuk mengerjakan peninggian jalan dan aspal. Sedangkan untuk saluran air dan tutup saluran air tidak dikerjakan. “Saya dulu ikut menangani proyek itu,”kata Sunarto.

Penjelasan Sunarto ini, berbeda dengan data di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), yang tetap mencantumkan 4 pekerjaan, yaitu peninggian jalan, pengaspalan, pembenahan saluran air, dan tutup saluran air. Nilai Pagu Paket di LPSE Rp 707 juta lebih. Lelang proyek itu kemudian dimenangkan oleh CV. Delya Abadi, Nganjuk, dengan penawaran bernilai Rp 539,9 juta lebih. (mam)

1 Project Package, 4 Work, 2 Not Done?

KEDIRI – Indications of the possibility that a number of projects that were allegedly not implemented in full as planned in one project package were found again. Namely in the project of elevating, asphalting, and repairing the waterways and closing the canals on Jl. Giki, Semampir, Kota Kediri, 2018. The project post is in the Satker of the Kediri City Public Works and Spatial Planning (PUPR) Service.
Based on the data collected by Kediripost, in the four forms of project work were listed in 1 work package with a Package Ceiling value of more than Rp. 707 million, the project auction was then won by CV. Delya Abadi, Nganjuk, with an offer of more than Rp. 539.9 million.
The physical realities in the field that were found, the work of elevating the road and paving the road in that location have indeed been carried out. However, for the two items of work on cleaning the drain and closing the channel, it was not found. The drains remain as before, as they have been there for a long time. Cracked and collapsed waterways are still clearly visible.
Currently closed the drains, also not there. Along the road in front of Giki Semampir, the existing waterways are closed by local residents, especially those in front of residents’ houses. So that the width and height are not the same, according to the tastes of the residents themselves.
Haryono, one of the residents, confirmed that there was a 4 work project package in his neighborhood. It’s just that, the matter of the drains and the closure of the waterways, which should have been part of the project package, has not been carried out. So that when it rains heavily, the road in front of Giki floods and often enters people’s homes. “If the drainage is also worked on, even though there is flooding, it is at least very helpful, not too bad,” he said, when met at his house, which was confirmed by other residents.
Meanwhile, Nurul Mubin, director of CV. Delya Abadi, when confirmed through the WA channel, did not provide an answer. Likewise with Chairul Anam, who is referred to as the field officer of CV. Delya Abadi in the project, also did not provide an answer.
Meanwhile, Sunarto, an employee of the DPUPR who claims to be involved in handling the project, explained that the project was originally proposed for around Rp. 2 billion, but the funds that had been dropped were only around Rp. 900 million. So that the Budget Plan (RAB) is only for working on elevating roads and asphalt. Meanwhile, the drains and drains were not done. “I used to take part in the project,” said Sunarto.
Sunarto’s explanation is different from the data in the Electronic Procurement Service (LPSE), which still lists 4 jobs, namely road elevation, paving, repairing waterways, and closing waterways. The package ceiling value at LPSE is more than Rp. 707 million. The project auction was then won by CV. Delya Abadi, Nganjuk, with an offer of more than Rp. 539.9 million. (mam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *