Korupsi Buku, WTP Pemkot Dipertanyakan

Tidak Yakin Imam Sofa ‘Pemain’ Utama

KEDIRI – Ditahannya Imam Sofa, mantan Pejabat pembuat Komitmen (PPKom) Dinas Pendidikan Kota Kediri, dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan buku perpustakaan SDN di Dinas Pendidikan Kota Kediri tahun 2018, Senin (12/4/2021), memunculkan pertanyaan lain, yaitu soal status Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yang didapat dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sebab, ternyata di Dinas Pendidikan ternyata ada kasus dugaan korupsi.

SAMANHUDI SH: Penasehat Hukum Imam Sofa,, mempertanyakan status WTP yang diperoleh Pemkot Kediri, karena ternyata ada kasus dugaan korupsi di Dinas Pendidikan Kota Kediri. 

“Selama ini, Kota Kediri kan Wajar Tanpa Pengecualian(WTP). Tapi ternyata 2018 ada ini (kasus dugaan korupsi, bagaimana itu WTP-nya. Iya kan?,”ujar Samanhudi SH, Penasehat Hukum  (PH) Imam Sofa, saat ditemui di kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kediri, di sela-sela mendampingi pemeriksaan kliennya.

Seperti diberitakan, Kejari Kediri menahan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan buku SDN se-Kota Kediri 2018. Mereka adalah Imam Sofa (mantan PPKom di Dinas Pendidikan), Suyita (CV Surya Edukasi, pemenang tender), dan Suparmin (PT Intan Pariwara). Pada kasus ini, diduga CV Surya Edukasi hanya dipinjam benderanya, sedangkan pelaksana riilnya PT Intan Pariwara.

Samanhudi juga menilai aneh kasus ini, karena yang menemukan justru kejaksaan. Sedangkan 19 kepala sekolah SD penerima, juga tidak ada yang komplain atau mengadu tentang adanya kekurangan buku yang dikirim maupun harga kemahalan. “PPKom kan tidak mungkin mengecek sendirian. Ada panitia pengawas, penerima barang, dan sebagainya, tidak ada yang melapor adanya kekurangan buku. Ini kan aneh to,”tandasnya.

Di sisi lain, feedback pembaca Kediripost terus mengalir terkait penahanan 3 orang itu. Yang umumnya, cenderung tidak percaya Imam Sofa ‘pemain’ utama korupsi ini. Meskipun secara formal Imam Sofa ikut bertanggungjawab.  “Apa bisa orang yang jabatannya lebih rendah (Imam Sofa,red), mengambil kebijakan melebihi pejabat yang besar? ini aneh. Logika orang awam saja,”ujar HA, saat memberikan feedback atas berita terkait penahanan 3 tersangka kasus proyek buku di Disdik Kota Kediri.

“Lhaaa…. Iya too???? Dia di keeek. Yang lain senyum-senyum, sambil melihat derama dari jauh,”ujar pembaca lain.

“Kasihan. Mungkin  dia (Imam Sofa,red) tetap kecipratan, entah seberapa, kecil pun tetap ada salah. Tapi gajahnya salah kok malah aman ya?,”celoteh pembaca lain yang mengaku kenal dengan Imam sofa.

“Sing wong cilik – cilik diciduk. Pinter,”kata pembaca yang lain. (mam)

Questionable Book Corruption, Questionable City Government WTP

Not Sure Priest Sofa is the main ‘player’

KEDIRI – The detention of Imam Sofa, a former Commitment Making Officer (PPKom) of the Kediri City Education Office, in the alleged corruption case of the SDN library book procurement project at the Kediri City Education Office in 2018, Monday (12/4/2021), raises another question, namely the question Unqualified status (WTP) obtained from the Supreme Audit Agency (BPK). This is because it turns out that in the Education Office there are cases of suspected corruption.
“So far, Kediri City is Unqualified (WTP). But it turns out that in 2018 there is this (a case of suspected corruption, how is that the WTP. Right ?, “said Samanhudi SH, Imam Sofa’s Legal Advisor (PH), when he was met at the Kediri District Attorney’s (Kejari) office, on the sidelines of accompanying the examination. his client.
As reported, the Kediri Prosecutor’s Office detained three suspects in the case of alleged corruption in the SDN book procurement project for the 2018 SDN City. They are Imam Sofa (former PPKom at the Education Office), Suyita (CV Surya Edukasi, winner of the tender), and Suparmin (PT Intan. Advertisement). In this case, it is suspected that CV Surya Edukasi only borrowed the flag, while the real implementer was PT Intan Pariwara.
Samanhudi also considered this case strange, because it was the prosecutor’s office that found it. Meanwhile, the 19 principal receiving primary schools did not complain or complain about the shortage of books sent and the high price. “It is impossible for PPKom to check it alone. There are supervisory committees, recipients of goods, and so on, none of which report a shortage of books. It’s strange right, “he said.
On the other hand, Kediripost readers’ feedback continues to flow regarding the detention of the 3 people. In general, they tend not to believe Imam Sofa is the “main player” of this corruption. Although formally Imam Sofa is also responsible. “Can a person with a lower position (Imam Sofa, red) take more policies than a large official? this is weird. Just a common sense, ”said HA, when giving feedback on the news related to the detention of 3 suspects in the book project case at Disdik Kota Kediri.
“Lhaaa…. Yes too ???? She’s cackled. The others smiled, while watching the rhythm from afar, ”said another reader.
“Pity. Maybe he (Imam Sofa, red) is still splashed, no matter how small, there is still something wrong. But the elephant is wrong, how come it’s safe, huh? ”Said another reader who claimed to know Imam Sofa.
“Sing wong cilik – little boy was taken away. Smart, ”said another reader. (mam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *