SE Supadi Bukan Gelar

KEDIRI – Huruf SE diduga gelar dan yang dijadikan Polres Kediri Kota sebagai dasar untuk menetapakna Supadi, bakal calon Bupati Kediri, disebut-sebut bukan sebagai gelar, tapi kepanjangan dari nama Supadi, yakni Subiari Erlangga, dan sudah mendapatkan ketetapan dari Pengadilan. “SE Itu bukan gelar dari univeristas, tapi kepanjangan dari Subiari Erlangga. Itu tahun 2010,”ujar Supadi, saat ditemui usai ditetapkan sebagai tersangka penggunaan gelar palsu oleh Polres Kediri Kota.

Seperti diberitakan, Supadi ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Kediri Kota dengan dugaan penggunaan gelar palsu. Kasus ini muncul setelah polisi mendapatkan laporan dari warga terkait dugaan Supadi menggunakan gelar palsu.

Bakal calon Bupati Kediri yang rencananya akan diusung PKB, Gerindra, dan PAN, ini menjelaskan, Subiari adalah nama ayahnya, sedangkan Erlangga adalah nama tambahan yang diberikan oleh guru spiritualnya, yang mengacu pada Prabu Erlangga. “Nama lahir saya Gunadi. Dalam kepercayaan Jawa, karena nama ibu Guniyem, nama Gunadi dinilai berat, khawatir akan sakit-sakitan, setelah umur 8 bulan, diganti Supiadi,”tandasnya.

Setelah mendapatkan tambahan nama Subiari Erlangga, Supadi kemudian mencari penetapan nama itu melalui Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri. Pada Kartu Keluarga (KK) Supadi, yang diterbitkan Dispendukcapil Juni 2012, juga sempat muncul nama Supadi SE, tapi di kolom pendidikan ditulis SLTA sederajat. Karena dinilai Supadi kurang pas, saat Supadi memiliki anak ke-3, dia kembali mengubah KK dan muncul nama Supadi, tanpa SE. Hanya di kolom pendidikan ditulis diploma. “Saya tidak pernah di universitas. Jadi, itu murni kesalahan penulisan dari Dispendukcapil soal penulisan,”tambah Supadi.

Menurut Supadi, tulisan SE pada namanya memang sempat muncul akte jual beli tanah di salah satu notaris di Kediri. Tetapi di notaris-notaris yang lain tidak ada. Juga ada di salah satu surat menyurat desa. “Bukti itu yang dipakai Polres. Jadi sebenarnya salah tafsir saja soal tulisan SE itu. Saya sudah menjelaskan ketika diperiksa sebagai saksi, tapi keterangan saya tidak dipakai. Saya juga tidak penah mendaftarkan sesuatu dengan menggunakan ijazah palsu dengan gelar SE, karena saya memang tidak kuliah,”kata Supadi.

Supadi menilai kasus ini sengaja dimunculkan di tengah situasi politik di Kabupaten Kediri yang sedang mulai memanas. Supadi juga belum memastikan apakah dirinya akan melakukan langkah pra peradilan atau tidak. “Saya masih konsultasi,”tambah Supadi (mam)

 

SE Supadi Is Not a Title

KEDIRI – The letter SE was allegedly the title and which was used by the Kediri City Police as the basis for establishing Supadi, the future candidate for the Regent of Kediri, was mentioned not as a title, but an extension of Supadi’s name, namely Subiari Erlangga, and had already received a decision from the court. “SE That is not a title from the university, but it stands for Subiari Erlangga. That was in 2010, “Supadi said, when found after being named a suspect of the use of a fake title by the Kediri City Police Station.
As reported, Supadi was named a suspect by the Kediri City Regional Police with the alleged use of a fake title. This case arose after the police got reports from residents related to Supadi’s alleged use of a fake title.
The candidate for Kediri Regent who is planned to be carried by PKB, Gerindra, and PAN, explained, Subiari is the name of his father, while Erlangga is an additional name given by his spiritual teacher, which refers to King Erlangga. “My name is Gunadi. In Javanese belief, because of Guniyem’s mother’s name, Gunadi’s name was considered heavy, worried that he would be sick, after being 8 months old, Supiadi was replaced, ”he said.
After getting the additional name Subiari Erlangga, Supadi then sought the name determination through the District Court of Kediri. On Supadi’s Family Card (KK), which was issued by Dispendukcapil in June 2012, the name Supadi SE also appeared, but in the education column, it was written senior high school. Because Supadi was considered unsuitable, when Supadi had a third child, he changed his KK again and the name Supadi appeared, without SE. Only in the education column is written a diploma. “I have never been at a university. So, it was purely a writing error from Dispendukcapil about writing, “Supadi added.
According to Supadi, the SE written on his name did indeed appear on a land sale and purchase certificate at one of the notaries in Kediri. But there are no other notaries. Also in one of the village correspondence. “That evidence is used by the police station. So it is actually just a misinterpretation of the SE text. I explained when I was examined as a witness, but my statement was not used. I also never registered anything using fake diplomas with a SE, because I did not go to college, “Supadi said.
Supadi assessed that this case was deliberately raised in the midst of the political situation in Kediri which was starting to heat up. Supadi also has not confirmed whether he will take pre-trial steps or not. “I’m still consulting,” Supadi added (mam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *