BURSA BUPATI KEDIRI (2)

Jenuh, Penantang Bermunculan

Oleh : Imam Subawi

Situasi keluarga Sutrisno yang banyak dinilai penuh keraguan, bergelayutnya rasa kejenuhan di sebagian masyarakat, dan persoalan kapasitas calon yang akan diajukan, tampaknya diamati cukup jeli oleh sejumlah politisi dan calon penantang. Isu tentang keluarga Sutrisno yang akan mengambil posisi kandidat calon wakil bupati, bukan kandidat calon bupati seperti Pilkada-Pilkada sebelumnya, memperkuat indikasi bahwa keluarga Sutrisno ragu atas kapasitas calonnya. Sehingga, sejumlah nama calon kandidat sudah muncul ke permukaan dan ancang-ancang untuk maju sebagai kandidat Bupati Kediri. Meskipun, belum ada satu pun yang memastikan diri untuk betul-betul maju. Tetapi bursa calon kandidat ‘penantang’ sudah ramai dibicarakan. Misalnya, Sarmuji (anggota DPR RI- Golkar), Babussalam (Anggota DPRD Jatim – PAN), Slamet Budiono alias Genjik ( Wakil Direktur PT Gudang Garam Tbk), Mudawamah (Ketua Muslimat NU Kabupaten Kediri),  Lilik Sutikno (TNI aktif), dan sejumlah nama lain.

Rasa kejenuhan di sebagian masyarakat terhadap kepemimpinan dan indikasi keraguan keluarga Sutrisno, menjadi faktor utama keberanian para calon kandidat untuk tampil menjadi ‘penantang’. Pada Pilkada 2015, relative tanpa penantang, seakan tidak ada yang berani macung,  hingga terjadi head to head dengan calon sebelumnya nyaris kurang dikenal. Hasilnya, sang penantang mampu meraup sekitar 33 persen suara pemilih. Padahal, penantang sepi kampanye. Realita ini menjadi sinyal penting bagi calon penantang, sekaligus bagi incumbent untuk berbenah.

Dari sejumlah nama yang muncul di masyarakat, calon Penantang yang dinilai paling serius adalah Babussalam. Ada beberapa indicator yang bisa mengarah ke hasil analisa itu. Pertama, anggota DPRD Jawa Timur ini sejak masa kampanye Pileg lalu udah mendeklarasikan diri bahwa dia akan macung sebagai kandidat calon Bupati Kediri. Kedua, dia sudah menyampaikan secara massif rencana program kerja jika berhasil menjadi Bupati Kediri, yakni distribusi dana Rp 50 juta per RT per tahun, mengkiblat program Kota Kediri, baik sisi sasaran maupun bentuk program. Ketiga, PAN pada 2015 lalu juga menjadi penantang Sutrisno. Sangat mungkin tahun depan akan diulang dengan beberapa pembenahan strategi.

Sarmuji, dinilai juga memiliki potensi yang cukup kuat untuk maju sebagai Calon Bupati Kediri. Kerjasama politiknya dengan Muslimat NU Kabupaten Kediri, yang dimulai pada Pilkada Gubernur Jawa Timur, berlanjut ke Pileg 2019, menjadi modal penting untuk meraup massa. Mengingat, massa Muslimat tergolong cukup solid dalam berbagai pengalaman pemilihan.  Jaringan HMI-KAHMI yang dibangun Sarmuji juga tergolong sangat baik. Jiwa ‘petarung’ politik yang dimilikinya, menjadikan Sarmuji sangat diperhitungkan dalam setiap even politik. Keberhasilannya terpilih sebagai anggota DPR RI kali ini, ada peran besar muslimat dalam pendulangan suara.

Sedangkan Slamat Budiono alias Genjik, masih sangat diragukan totalitas keberaniannya maju sebagai Calon Bupati. Secara potensi prasyarat ‘pertarungan’ politik, sebenarnya dia memiliki potensi yang cukup. Secara financial mumpuni, cukup dikenal di kelompok menengah, dan jaringan ada meskipun terbatas. Timnya juga sudah melakukan beberapa kegiatan sosial, even, dan proganda politik dengan ‘menyerang’  keluarga  Katang (baca : Sutrisno,pen) melalui  sosial media. Meskipun, sosmed itu kemudian dihapus kembali. Seakan, Genjik ingin menunjukkan bahwa dia siap ‘perang’ di Pilkada Kabupaten Kediri.

Di kelompok masyarakat bawah, nama Slamat Budiono relative kurang dikenal. Di masyarakat, dia dinilai lebih menempel sebagai pejabat GG dibanding peran dirinya secara personal. Sementara, GG secara kelembagaan perusahaan sejauh ini lebih memilih ambil jalan ‘aman’ dengan sikap netral dalam berbagai even politik.

Jika isu yang berkembang benar, bahwa Slamet Budiono ingin mengambil jalur indepen pada Pilkada 2020 mendatang, menjadi indicator tambahan soal kemungkinan ketidakseriusannya untuk merebut kursi Bupati Kediri. Dalam sejarah pencalonan kepala daerah melalui jalur independen di Indonesia, terlalu kecil prosentatif calon independen bisa menang.

Dengan harapan, Parpol akan merapat hingga ‘harga’ parpol lebih murah. Kesan yang muncul, Slamet Budiono tidak benar-benar siap macung sebagai calon kandidat Bupati Kediri. Bahkan, sebagaian analis politik menduga bahwa gerakannya yang membawa isu akan macung sebagai Bupati Kediri, itu hanya sebagai alat  ‘bernegosiasi’ di internal GG dan Bupati Kediri. Mengingat, kepentingan GG diniali terlalu kecil untuk ‘menempatkan’ orang sebagai Bupati Kediri.

Hanya saja, situasi politik akan terus berkembang sejalan dengan dinamikanya dan semakin dekatnya hari H Pilkada. Semua calon kandidat akan terus mengukur perkembangan politik dan kekuatan masing-masing, sekaligus menyiapkan strategi pemenangan masing-masing. (bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *