Dinkes Kota Kediri Klarifikasi Penyebab Kaki Lumpuh

Kepala Dinkes Kota Kediri Fauzan Adzima

Kediri- Polemik penyebab kulumpuhan kaki Wildan, santri lirboyo akhirnya mendapat respon dari Dinas Kesehatan Kota Kediri.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri Fauzan Adzima menyatakan bahwa imunisasi yang baru dilaksanakan di Kota Kediri adalah ORI Difteri bukan Rubella seperti yang banyak diberitakan, karena imunisasi Rubella telah dilaksanakan tahun 2017 lalu.

Menurutnya Imunisasi ORI Difteri merupakan salah satu program penting pemerintah pusat dalam mencegah penyakit difteri, karena penyakit ini sangat menular dan berbahaya serta dapat mengakibatkan kematian.

Pria yang akrab dengan Fauzan juga menjelaskan terkait dengan persoalan yang dialami santri lirboyo yang lumpuh paska dilakukan imunisasi, menurutnya  santri tersebut awalnya diduga oleh RS  di Tulungagung terkena Guillain-Barré Syndrome (GBS). Diagnosa ini telah dipastikan juga oleh Rumah Sakit Saiful Anwar Kota Malang bahwa W positif menderita GBS atau penyakit yang menyerang susunan saraf tepi. “ Penyakit GBS ini tidak diakibatkan oleh imunisasi tapi kelumpuhan ini adalah kejadian yang kebetulan terjadi atau coincidence setelah imunisasi,” ujarnya.

Dengan adanya kejadian itu, Walikota Kediri memerintahkan Kepala Dinkes Kota Kediri untuk secepatnya berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur soal kejadian tersebut. Hasil koordinasi membuahkan hasil bahwa biaya pengobatan pasien ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Termasuk biaya perawatan selama di RS Syaiful Anwar Kota Malang juga ditanggung oleh pemerintah. Sedangkan Pemkot Kediri akan membantu keluarga pasien lewat program living cost yaitu sebuah program pemkot Kediri untuk membantu biaya hidup keluarga pasien saat menemani pasien dalam masa perawatan sebesar Rp. 125.000 per hari.

Data yang dihimpun, sebelumnya Suyanto orang tua korban sempat melakukan aksi tunggal dengan berjalan kaki dari Gedung Nasional Indonesia (GNI) ke Kantor Dinkes Kota Kediri untuk menuntut pertanggung jawaban. Pasalnya untuk biaya pengobatan anaknya membutuhkan biaya banyak. Sekali cuci darah sekitar Rp 25 juta, dan itu membutuhkan sekitar 5 kali cuci. Sementara BPJS untuk pemulihan Vyrus Sindrom GBS hanya mencover Rp 17 juta.   (bad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *