STRATEGI PERKADERAN HMI

Oleh : Mundzir, Ketua HMI Cabang Jombang

HMI sebagai organisasi kader,  sudah ditegaskan dalam konstitusi pasal 9 Anggaran Dasar (AD). Selain itu, masalah perkaderan ini ditegaskan kembali pada pasal 7 Anggaran Dasar (AD) bahwa HMI sebagai organisasi yang bersifat independent.  HMI juga ditegaskan statusnya sebagai organisasi kemahasiswaan sesuai pasal 8 Anggaran Dasar (AD).

Hal ini mencerminkn sejak awal  dinamika HMI selalu memperhatikan tugas dan tanggungjawab serta semangat yang integralistik antara ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.

Bila kita melihat Jawa Timur, provinsi paling timur pulau Jawa ini memiliki cabang terbanyak di Indonesia dengan 16 cabang penuh dan 1 cabang persiapan. Di 17 cabang tersebut terdapat puluhan ribu kader yang berproses dan menimba ilmu. Jumlah kader yang sangat banyak ini tentu menjadi tantangan bagi pimpinan dan pengurus HMI di Jawa Timur. Terutama Badko Jatim yang menjadi badan kordinasi perkaderan di HMI Jawa Timur.

Dengan kondisi ini, harus dilihat  bahwa  perkaderan sebagai salah satu kegiatan primer HMI, yang meliputi segenap usaha kearah pembinaan manusia-manusia muslim (mahasiswa) Indonesia yang bertanggungjawab dan mampu berbuat sebanyak-banyaknya bagi kebaikan rakyat dan kemanusian.

Sejak  1950 lalu,  HMI secara serius membenahi sistem perkaderan untuk kelanjutan estafet kepemimpinan di HMI. Apalagi saat itu kader HMI sudah mulai banyak dan perlu pembinaan khusus.

Perkaderan ini mulai dipikirkan secara serius oleh  PB HMI ketika masa kepengurusan Ismail Hasan Metareum (periode 1957-1960). Ismail Hasan merupakan penggagas utama ide perkaderan formal di HMI menginginkan agar HMI tidak menjadi tempat berkumpulnya orang yang punya kesamaan hoby atau aktivitas, tapi menjadi second campus bagi para anggotanya.

Berangkat dari sini, perkaderan HMI di Jatim terus berjalan dengan baik, sehingga menghasilkan pemimpin-pemimpin masa depan yang berkualitas. Namun rencana ini tak akan menghasilkan apapun tanpa tindakan nyata.

Dengan demikian, perlu adanya penajaman rumusan misi organisasi, misi perkaderan yang diintegrasikan dengan semangat sistem pendidikan Islam. Sesuai pedoman perkaderan tahun 1983,  HMI sebagai organisasi mahasiswa yang berdasarkan Islam dan secara otomatis meletakan nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Assunah pada setiap perkaderan. Penajaman misi perkaderan ini dikonsep gaya milineal dan kekinian. Memanfaatkan instagram, Facebook, libur dan media sosial lainnya. Seperti penyebaran pamflet, tulisan pendek dan foto-foto.

Kedua, HMI Jawa Timur harus menempatkan kader yang memang memahami seluk perkaderan pada struktur kepengurusan yang ada. Hal ini bisa menciptakan suatu sinergitas pemikiran dan gerakan hingga menjadi satu kesatuan dalam tubuh HMI yang diharapkan menjadi ciri khas dan karakteristik para kadernya.

Untuk mensinergikan, perlu adanya fasilitasi berbagai forum pendidikan dan pelatihan untuk para kader HMI agar bisa mempersatukan visi dan mensinergiskan pemikiran . Selain itu, melalui forum itu diharapkan bisa menciptakan komunikasi antar kader yang berujung pada terwujudnya ukhuwah Islamiyah sesama kader HMI.

Ketiga, perlu membuat suatu format perkaderan ideal yang cocok bagi HMI Jatim. Untuk itu, perlu melakukan pengkajian dan studi banding ke beberapa organisasi dalam dan luar negeri. Pengkajian secara teoritik dan empirik dengan melibatkan kader.  Sehingga output kader HMI semakin berkualitas.

Sistem perkaderan ini tidak hanya sebagai bentuk formal penyaringan anggota dan peningkatan kualitas kader, tetapi diperluas sebagai salah satu prasyarat yang harus dipenuhi para calon pengurus HMI dari PB sampai Komisariat. Sehingga perkaderan HMI semakin

Efisiensi, efektifi, dan maksimal. Mengingat  perkaderan merupakan alat vitalnya organisasi, maka perkaderan menempati posisi yang sangat penting dalam setiap aktivitas HMI.

Keempat, materi perkaderan selain dominasi materi ke-Islam-an yang bersifat kajian khusus, juga materi yang sifatnya umum banyak diwarnai dengan penekanan pada nilai-nilai ke-Islam-an.

Semua itu untuk mewujudkan sebagai upaya menciptakan insan HMI dan dimensi perjuangan sebagai tekad juang pendayagunaan potensi kekaderan dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.

Dengan harapan HMI menjadi perjuangan Islam dan harus sinergis dengan perjuangan bangsa Indonesia. Sebab pada dasarnya kelahiran HMI sebagai suatu gerakan yang berusaha ikut serta dalam perjuangan Indonesia. (mam)

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *