Inilah, Derita Warga Miskin di Nganjuk yang Butuh Perhatian

Kakek Jomo (60) warga Dusun Puncu, Desa Gampeng, Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk, saat disuapin oleh seorang dermawan, kemarin

NGANJUK – Pemerintah Dearah Kabupaten Nganjuk, sepertinya kurang peduli terhadap warganya terutama pada kalangan warga miskin. Buktinya, masih ditemukan sejumlah warga yang nasibnya sungguh miris. Mareka bertahun-tahun bertempat tinggal ditempat yang jauh dari kata layak dan untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, meraka harus mununggu uluran tangan dari dermawan.

Pantauan di lokasi, warga yang kurang beruntung tersebut dialami Kakek Jomo (60) warga Dusun Puncu, Desa Gampeng, Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk. Tanpa seorang teman, Dia harus menghabiskan hari tuanya di gubuk reot yang berada di area tengah sawah.

Bahkan, hanya untuk sekedar bisa makan saja dia musti memerlukan bantuan orang lain. Pasalnya, kondisi tubuhnya sudah renta, ditambah dengan kondisi kaki yang membengkak, sehingga untuk berjalan saja harus pelan dan mencari pegangan.

Karena tak bisa lagi beraktifitas, dia pun hanya bisa berpasrah diri sembari menunggu pemberian dari orang. Bahkan, tak makan selama tiga hari lantaran tak ada yang memberi, bagi dia sudah hal yang biasa.

“Saya tidak bisa makan setiap hari karena kondisi ekonomi, tiga hari tidak makan itu sudah biasa,” ungkapnya.

Mirisnya lagi, gubuknya yang kecil itu juga sangat minim fasilitas. Untuk aliran listrik saja, informasinya baru diputus oleh PLN. Alhasil, Kakek Jomo harus mengandalkan penerangan dari ublik (api berbahan bakar dari minyak tanah-red) sebagai sumber cahaya saat malam tiba.

Kondisi gubuk yang sudah ditempatinya selama kurung lebih 10 tahun itu, terlihat banyak lubang yang mengaga, sehingga anggin pun bebas masuk. Wajar saja jika  tubuh kakek yang sudah renta itu merasa kedinginan ketika malam tiba.

“ Tinggal digubuk ini sudah 10 tahun. Dan, saya gak mungkin bisa membangun gubuk ini. Karena tidak punya uang, untuk makan saja sulit,” ujarnya dengan nada lemas.

Dia juga mengaku penuh perasaan was-was ketika beristirahat di dalam gubuk. Pasalnya, gubuk kecil terbuat dari bahan bambu itu terlihat sudah lapuk dan nyaris roboh.

“ Saat hujan deras disertai angin kencang, saya takut jika mendadak roboh,” cetusnya.

Nenek Satona, mengenakan baju warna merah, tepat berada di depan pintu tempat tinggalnya.

Nasib serupa juga dialami, Nenek Satonah, wanita paruh baya dengan umur 87 tahun, ini merupakan warga Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, hidup sebatang kara.

Saat berkunjung ke kediamannya, Nenek Satonah tinggal di tempat bedak praktis berukuran 4 x 4 meter, sehingga tak layak di sebut rumah. Dindingnya yang terbuat  dari anyaman bambu dan  sudah rapuh terlihat sangat memprihatinkan.

Selain itu, sebagian ruangan tersebut, terdapat tumpukan barang bekas (ronsokan-red) yang dia peroleh dan akan dijual setelah terkumpul banyak. Uangnya pun, dia pergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, meski tak jarang mendapat pemeberian dari orang.

Mirisnya, letak tempat tinggal Nenek Satonah berdampingan dengan toilet umum, tepat berada sebelahnya. Sehingga, tak jarang aroma kurang sedap dari toilet menjadi teman keseharianya.

“ Sudah bertahun-tahun lamanya saya tinggal di sini. Sampai lupa, mulai kapan dan sudah berapa lama saya tinggal di sini,” ucapnya, sembari tersenyum.

Kendati demikian, Nenek Satonah tak mempedulikanya, karna hanya bedak kecil inilah yang sekarang bisa ditempatinya. Tidak cukup sampai disitu, untuk makan setiap harinya, dia hanya mengandalkan uluran tangan dari tetangganya.

“ Untuk makan sehari-hari, biasayan saya deberi teman-teman (tetangga-red),” akunya.

Dirinya berharap, agar ada perhatian serius dari Pemerintah setempat. Terlebih, memberinya tempat tinggal layak.

Sri Wahyuni, bersama anaknya yang menderita sakit lumpuh sejak berusia 2 tahun, Senin, 17/7/18.

Debritakan sebelumnya, seorang ibu di Nganjuk, Jawa Timur, harus berjibaku seorang diri merawat anaknya yang menderita  sakit lumpuh selama bertahun-tahun. Ironisnya, demi mencukupi kebutuhan hidup sehari hari, Dia terpaksa mengaharap simpati para pengguna jalan dengan cara mengamen di perempatan trafig light yang tak jarang harus berurusan dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (satpol PP).

Adalah Sri Wahyuni (50) warga Dusun Gambirejo, Desa Warujayeng, Kabupaten Nganjuk. Dengan sabar dan penuh rasa kasih sayang,  dirinya merawat anaknya yang diberinama Dewi Sri (24) mengalami kelumpuhan sejak usianya masih dua tahun

Alih- alih membelikan obat untuk kesembuhan anak semata wayangnya, untuk makan sehar-hari saja dirinya mengaku terpaksa melakukan pekerjaan kurang baik yaitu dengan cara mengamen di jalanan.

“ Sekarang, jangankan untuk beli obat, untuk makan setiap hari saja saya terpaksa harus mengamen dulu, “ ucap Sri Wahyuni saat diwawancarai sejumlah awak media di kediamanya, Senin (17/718). (an/km/wan)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *