Tari Barong Sewu Menjadi Penutup Pekan Budaya

Wakil Bupati Kediri, saat menghadiri acara Tari Barong Sewu

Kediri- Pekan budaya yang digelar oleh Pemkab Kediri selama kurang lebih satu minggu berjalan dengan lancar. Warga Kabupaten Kediri dan sekitarnya bisa menikmati berbagai pertunjukan yang disuguhkan di area simpang lima gumul. Dan puncaknya dihari penutupan pekan budaya telah digelar Tari kolosal Barong Sewu, Sabtu (14/7)

Pentas tari kolosal Barong Sewu dibuka Wakil Bupati Kediri Drs Masykuri diikuti seniman barong dari 25 kabupaten dan kota se Indonesia. Dari registrasi panitia, tari kolosal ini dimeriahkan sekitar 3.000 penari.

Pembukaan diawali dengan tari Gahahan Topeng Panji Alus yang melibatkan puluhan penari.

Selanjutnya diteruskan dengan penampilan para bopo yang dipimpin Heri Pratondo, Ketua Paguyuban Seni Jaranan (Pasjar) Kediri. Pentas dimulai dengan penyerahan pecut atau cemeti dilanjutkan dengan atraksi permainan cemeti.

Sedangkan tari kolosal Barong Sewu dimulai dengan penampilan para pejabat Pemkab Kediri yang dipimpin Sekretaris Daerah Supoyo,SH. Para pejabat ini memainkan tarian barong layaknya pemain barong jaranan.

Malahan Supoyo tak segan-segan memperagakan atraksi menari dengan dipanggul anak buahnya.

“Ini aksi spontanitas untuk memeriahkan Barong Sewu,” ungkapnya.

Supoyo mengaku tidak mempersiapkan secara khusus penampilannya. Karena latihannya hanya sekali dan langsung tampil bersama para penari barong lainnya.

Sementara Wakil Bupati Kediri Drs H Masykuri mengungkapkan, pagelaran tari kolosal kolaborasi Barong Sewu merupakan rangkaian Pekan Budaya dan Pariwisata Kabupaten Kediri. Selain itu juga upaya pengenalkan seni budaya kepada masyarakat.

“Barong Sewu melibatkan seniman jaranan pelaku seni dan generasi muda yang tergabung pada sanggar seni se Kabupaten Kediri. Kegiatan ini sekaligus penanaman karakter pelestarian budaya leluhur,” jelasnya.

Masykuri berharap dengan kegiatan tari kolosal membuat semangat generasi muda untuk mengenal, mengetahui dan melestarikan seni jaranan sebagai budaya leluhur.

“Dalam pengembangannya selama ini, seni jaranan memiliki keseimbangan estetika, kreatifitas, kreasi dan inovasi,” jelasnya.(bd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *