Dampak Pembangunan Pabrik, Puluhan Hektar Sawah Terancam Gagal Panen

Saluran irigasi yang tersumbat akibat dibuat jalan untuk menuju lokasi proyek pembangunan pabrik di wilayah Kecamatan Rejoso, tepatnya di Desa Mungkung.

NGANJUK – Proyek pembangunan sebuah pabrik yang berada di wilayah Kecamatan Rejoso, tepatnya di Desa Mungkung, kini menuai protes keras dari para petani setempat. Pasalnya, pembangunan Pabrik tersebut disinyalir kurang peduli dan terkesan mengabaikan lingkungan sekitar.

Menurut keterangan dari beberapa petani, salah satu dampak dibangunnya pabrik tersebut yakni saluran irigasi tersumbat dan tidak bisa mengalir dengan lancar. Tidak hanya itu, jika hujan tiba, puluhan hektar ladang sawah yang berada di sekitar lokasi pembangunan Pabrik  terendam banjir.

Jika hal itu dibiarkan, maka dikhawatirkan para petani akan mengalami gagal panen. Jadi, wajar saja jika para Petani  mengeluh dan menuntut agar pemilik pembangunan Pabrik dalam hal ini adalah PT Saruta segera merespon dan menyikapi persoalan tersebut.

Sudarso

Sudarso, salah satu petani yang berahasil diwawancarai wartawan ini mengatakan, sebelumnya para petani juga pernah berupaya dengan mematok jalan persawahan yang di lalui truk agar tidak menyumbat saluran irigasi. Namun, usaha pencegahan itu tak membuahkan hasil, karena pihak pelaksana proyek justru menghilangkan patok tersebut.

“Sepertinya, pelaksana proyek terkesan acuh tentang dampak yang ditimbulkan (pembangunan pabrik-red). Akibatnya, membuat saluran air irigasi para petani tidak bisa mengalir  dan mengakibatkan banjir dipersawahan warga,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, tak sedikit warga juga mengeluhkan dampak pembangunan pabrik itu. Sebab, jalan menuju akses persawahan  mereka rusak lantaran di gunakan untuk  truk muatan proyek pembangunan tersebut.

Lalu, apakah para petani tidak mendatangi pihak perusahan langsung untuk mengadu atau komplain  perihal persoalan tersebut? Ditanya demikian, pihaknya mengatakan, sebelumnya para petani juga pernah melakukan protes kepada pihak pabrik. Namun, pihak pabrik nampaknya tidak menganggapya dengan serius.

“ Kami pernah meminta agar dilakukan  perbaikan saluran irigasi. Meski pernah dilakukan, tapi itupun tidak sesuai dengan keinginan para petani. Buktinya, ketika hujan tiba sawah-sawag kami tetap kebanjiran karena saluran masih tersumbat, “ cetusnya, dengan nada kesal. (an/kp)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *