GMPK Kediri Gelar diskusi Perangi Korupsi

Diskusi Perangi Korupsi

Kediri- Untuk memerangi Korupsi, DPD Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK).Kediri menggelar diskusi dengan sejumlah element masyarakat. Diantaranya dengan komunitas seniman dan sejumlah aktifis pergerakan.

Sulchan .M Noer, menyatakan ingin mengembalikan konsep manusia, selalu berkarya dan berperan aktif memwujudkan pembangunan yang bisa dirasakan semua warganya.

“Tentunya tetap memikirkan nasib generasi muda, lebih pantas disebut generasi micin (sebutan bumbu masakan,red) daripada istilah trend sekarang Kids Jaman Now,” jelas sosok aktifis pergerakan dihadapan sejumlah seniman, guru bahasa dan aktifis pergerakan di Kabupaten Kediri, saat acara diskusi publik bertempat di Kawasan Kampung Inggris pada Senin lalu.

Terkait derajat dan kedudukan manusia,  usulan menarik disampaikan Abdul Basit Hariadi yang akrab disapa Den Basito, sosok penyanyi reggae ternyata memiliki kepedulian atas sejarah Tanah Jawa. “Manusia itu harus berperilaku seperti Pramu Sama, Pramu diartikan pelayan dan Sama dimaknakan sesama. Bila manusia mampu melayani sesama ciptaan Tuhan, tentunya akan merasakan kedamaian dan ikatan kekeluargaan yang sejati,” jelasnya.

Pendapat yang sama juga disampaikan tokoh ulama muda yang kerap Pendiri Kelompok Pengajian Generasi Cahaya, di sejumlah tempat Agus Naf’an Shalahuddin, pengasuh Ponpes Al Husna Kecamatan Wates. “Manusia harus belajar dari cahaya, selalu membawa sinar dari timur kemudian tenggelam di barat. Bila sudah menjadi kodrat Ilahi, maka kekuatan apapun jika tidak dilandasi agama yang kuat dan mampu berkomunikasi serta memperlakukan sesama ciptaanNya dengan baik, tentunya tidak akan bertahan lama,” ungkap Gus Naf’an.

Atas diskusi di atas, dr. Ari Purnomo Adi, sosok peduli lingkungan yang menghabiskan waktunya selain sebagai dokter juga mengajar sebagai dosen ilmu kesehatan, menyimpulkan bahwa maraknya kasus korupsi, dikembalikan kepada akhlak manusianya. “Bila mampu menghidupkan kembali mental, spiritual dan budaya maka kasus korupsi yang terjadi di negeri ini, bisa diantisipasi. Bagaimana anak – anak kita saat duduk di bangku sekolah telah diajarkan korupsi dalam berorganisasi,” jelas Paman Ari, sebutan akrabnya.

Dijelaskan oleh Ari, seperti membuat proposal kegiatan, selalu anggarannya yang diajukan dilebihkan tanpa dasar survey terlebih dahulu. Kemudian tidak semua sekolahan menerapkan kantin kejujuran, kemudian berdampak munculnya orang berjualan di sekitar kawasan sekolahan, yang terkait menu dijual, diragukan keamanan demi kesehatan tubuh.

Acara pertemuan dimulai pukul 20.00wib ini, tanpa terasa berakhir hingga Senin dini hari. Keberadaan GMPK Kediri ini, diharapkan Sulchan .M Noer mampu memberikan pencerahan dan mengajak para aktifis di masyarakat untuk melakukan pencegahan. “Istilah yang tepat bukan relawan perangi korupsi, namun sebagai Pramu Sama yang bekerja sepenuh hati,” jelas Ketua DPD GMPK Kediri.

Dijelaskan Sulchan .M Noer, membahas kasus korupsi tidak akan ada habisnya. Menurutnya, sudah terlalu banyak korupsi di negeri ini mulai bentuk sederhana berupa gaji di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.  “Dengan gaji yang minim akhirnya muncul indikasi  korupsi yang sistemik,” jelasnya. (bd)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *